Sabtu, 21 Mei 2011

DI BALIK PERANG IRAK

Rencana perang Irak, yang dilancarkan meski
mendapat tentangan dari seluruh dunia, telah
dipersiapkan setidaknya puluhan tahun lalu oleh
para ahli strategi Israel. Dalam upayanya
mewujudkan strategi pelemahan atau
pemecahbelahan negara-negara Arab Timur
Tengah, Israel memasukkan Mesir, Syiria, Iran
dan Saudi Arabia dalam daftar sasaran
berikutnya.
Saat tulisan ini disusun, Amerika Serikat (AS) telah
memulai penggempuran terhadap Irak. Meskipun
kenyataannya kebanyakan negara di seluruh
dunia, bahkan sebagian besar sekutu AS sendiri,
menentangnya, pemerintahan AS bersikukuh
untuk meneruskan rencana serangannya. Ketika
kita melihat apa yang ada di balik sikap keras
kepala AS ini, maka Israel-lah satu-satunya yang
bertanggung jawab atas pertumpahan darah dan
penderitaan di Timur Tengah sejak awal abad
kedua puluh. Kebijakan pemerintah Israel yang
ditujukan untuk memecah-belah Irak memiliki
akar sejarah yang panjang"
RENCANA ISRAEL MEMBAGI IRAK
Laporan berjudul "A Strategy for Israel in the
Nineteen Eighties" (Strategi Israel di Tahun 1980-
an), oleh majalah berbahasa Ibrani terbitan
Departemen Informasi, Kivunim, bertujuan
menjadikan seluruh kawasan Timur Tengah
sebagai wilayah pemukiman Israel. Laporan
tersebut, yang disusun oleh Oded Yinon -
seorang wartawan Israel yang pernah dekat
dengan kementrian luar negeri Israel -
memaparkan skenario "pembagian Irak"
sebagaimana berikut:
Irak, negeri kaya minyak yang menghadapi
masalah perpecahan dalam negeri, dijamin bakal
menjadi sasaran Israel. Mengakhiri riwayat Irak
jauh lebih penting bagi kita ketimbang Syria"
Sekali lagi, Irak pada intinya tidaklah berbeda
dengan para tetangganya, meskipun sebagian
besar penduduknya adalah penganut Syi'ah dan
sebagian kecil Sunni yang menguasai
pemerintahan. Enam puluh lima persen
penduduknya tidak memiliki andil dalam politik di
negara di mana sekelompok elit berjumlah 20
persen memegang kekuasaan. Selain itu terdapat
minoritas Kurdi berjumlah besar di wilayah utara,
dan jika bukan karena kekuatan rezim yang
memerintah, angkatan bersenjatanya, dan
pemasukannya dari minyak, masa depan Irak
akan takkan berbeda dengan nasib Libanon di
masa lalu" Dalam kasus Irak, pembagiannya
menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis
suku atau agama sebagaimana yang terjadi pada
Syiria di masa kekhalifahan Utsmaniyyah adalah
sesuatu yang mungkin. Jadi, tiga (atau lebih)
negara kecil akan terbentuk di sekitar tiga kota
utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; dan wilayah
kaum Syi'ah di selatan akan terpisah dari wilayah
kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.
Kita hanya perlu sedikit mengingat kembali
bagaimana skenario ini sebagiannya telah
dilakukan pasca Perang Teluk 1991, di mana Irak
secara efektif, kalau tidak secara resmi, dibagi
menjadi tiga wilayah. Fakta bahwa rencana AS
menduduki Irak, yang sedang dilakukan saat
tulisan ini dibuat, dapat kembali mendorong
terbaginya wilayah tersebut, merupakan sebuah
ancaman nyata.
PERAN ISRAEL DALAM PERANG TELUK
Penerapan strategi Israel telah dilakukan sejak
tahun 1990. Saddam Hussein menyerbu Kuwait
dalam serangan mendadak pada tanggal 1
Agustus 1990, sehingga memunculkan krisis
internasional. Israel menjadi pemimpin bagi
kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya
krisis itu. Israel adalah pendukung tergigih sikap
yang dianut AS menyusul serangan terhadap
Kuwait. Kalangan Israel bahkan menganggap AS
bersikap moderat, dan menginginkan adanya
kebijakan yang lebih keras. Sedemikian jauhnya
sehingga Presiden Israel, Chaim Herzog,
menganjurkan agar AS menggunakan bom
nuklir. Di sisi lain, lobi Israel di AS tengah
berupaya untuk mendorong terjadinya serangan
berskala luas atas Irak.
Seluruh keadaan ini mendorong terbentuknya
pandangan di AS bahwa serangan terhadap Irak
yang sedang dipertimbangkan, sesungguhnya
dirancang demi kepentingan Israel. Komentator
terkenal, Pat Buchanan, merangkum pandangan
ini dalam kalimat " Hanya ada dua kelompok yang
menabuh genderang perang di Timur Tengah -
Kementrian Pertahanan Israel dan kelompok
pendukungnya di Amerika Serikat." (http://
www.infoplease.com/spot/patbuchanan1.html)
Israel juga telah memulai kampanye propaganda
serius dalam masalah ini. Karena kampanye ini
sebagian besar dilancarkan secara rahasia, maka
Mossad pun terlibat pula. Mantan agen Mossad,
Victor Ostrovsky, memberikan informasi penting
mengenai hal ini. Menurutnya, Israel telah
berkeinginan melancarkan peperangan bersama
AS melawan Saddam jauh sebelum krisis Teluk.
Bahkan Israel telah memulai melaksanakan
rencana tersebut segera setelah berakhirnya
perang Iran-Irak. Ostrovsky melaporkan bahwa
departemen Perang Psikologi Mossad (LAP -
LohAma Psicologit) melancarkan kampanye
ampuh menggunakan teknik disinformasi.
Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan
Saddam sebagai seorang diktator berdarah dan
ancaman bagi perdamaian dunia. (Victor
Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm.
252-254).
AGEN MOSSAD BERBICARA TENTANG
PERANG TELUK
Ostrovsky menjelaskan bagaimana Mossad
menggunakan para agen atau simpatisan di
berbagai belahan dunia dalam kampanye ini dan
bagaimana, misalnya, Amnesty International atau
"para penolong Yahudi sukarelawan (sayanim)" di
konggres AS dikerahkan. Di antara cara yang
digunakan dalam kampanye tersebut adalah rudal
yang diluncurkan ke sasaran-sasaran penduduk
sipil di Iran selama perang Iran-Irak. Sebagaimana
dijelaskan Ostrovsky, penggunaan rudal-rudal ini
oleh Mossad di kemudian hari sebagai sarana
propaganda sungguh janggal, sebab rudal-rudal
tersebut ternyata telah diarahkan ke sasarannya
oleh Mossad, dengan bantuan informasi dari
satelit AS. Setelah mendukung Saddam selama
perangnya melawan Iran, Israel kini tengah
berupaya menampilkannya sebagai seorang
monster. Ostrovsky menulis:
Para petinggi Mossad mengetahui bahwa jika
mereka dapat menjadikan Saddam terlihat
sebagai sosok sangat jahat dan sebagai ancaman
bagi pasokan minyak Teluk, yang hingga saat itu
ia telah menjadi pelindung pasokan tersebut,
maka Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya
takkan membiarkan Saddam begitu saja, tapi
akan membuat perhitungan yang akan
menghancurkan angkatan bersenjata dan
kekuatan persenjataanya, khususnya jika mereka
sampai yakin bahwa ini hanyalah kesempatan
terakhir mereka sebelum Saddam menggunakan
senjata nuklir. (Victor Ostrovsky, The Other Side
of Deception, hlm. 254)
Israel sangat bersikukuh dalam masalah ini, dan
dalam kaitannya dengan Amerika Serikat, pada
tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar Negeri
Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman
menggunakan bahasa diplomatis kepada William
Brown, duta besar AS untuk Israel, dengan
mengatakan bahwa Israel "menginginkan AS
akan memenuhi semua tujuan-tujuan yang
ditetapkan Israel untuk mereka sendiri di awal
krisis teluk," dengan kata lain AS hendaknya
menyerang Irak. Menurut Levy, jika AS tidak
melakukannya, Israel akan melancarkannya
sendiri. (Andrew and Leslie Cockburn, Dangerous
Liaison, hlm. 356.)
Akan sangat menguntungkan bagi Israel jika AS
terlibat perang tanpa keterlibatan apa pun di pihak
Israel: dan inilah yang benar-benar terjadi.
ISRAEL MEMAKSA AS BERPERANG
Akan tetapi, kalangan Israel terlibat secara aktif
dalam perencanaan perang oleh AS. Sejumlah
pejabat AS yang terlibat merancang Operation
Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima
arahan taktis jitu dari kalangan Israel bahwa "cara
terbaik melukai Saddam adalah dengan
melancarkan serangan terhadap keluarganya."
Kampanye propaganda yang diilhami Mossad
sebagaimana dilaporkan Ostrovsky membentuk
dukungan publik yang diperlukan dalam Perang
Teluk. Sekali lagi, para pembantu lokal Mossad-lah
yang berperan menyulut api peperangan.
Lembaga pelobi Hill and Knowlton, yang
dikendalikan oleh Tom Lantos dari lobi Israel,
mempersiapkan rancangan yang dramatis guna
meyakinkan para anggota Konggres perihal
perang melawan Saddam. Turan Yavuz,
wartawan Turki terkenal, memaparkan kejadian
tersebut:
9 Oktober 1990. Lembaga pelobi Hill and
Knowlton mengadakan pertemuan di Konggress
yang bertemakan "Kebiadaban Irak." Sejumlah
"saksi mata" yang dihadirkan dalam acara itu oleh
lembaga pelobi tersebut menyatakan bahwa
tentara Irak membunuh bayi-bayi baru lahir di
bangsal-bangsal rumah sakit. Seorang "saksi
mata" memaparkan kekejaman itu dengan sangat
rinci, dan mengatakan bahwa para prajurit Irak
telah membunuh 300 bayi baru lahir di satu
rumah sakit saja. Berita ini sungguh
mengguncang para anggota Konggress tersebut.
Ini menguntungkan bagi pihak Presiden Bush.
Namun, belakangan diketahui bahwa saksi mata
yang dihadirkan oleh lembaga pelobi Hill and
Knowlton di hadapan Konggres ternyata adalah
anak perempuan duta besar Kuwait untuk
Washington. Kendatipun demikian, kisah yang
dituturkan anak perempuan tersebut sudah cukup
bagi para anggota Konggress untuk menjuluki
Saddam sebagai "Hitler". (Turan Yavuz, ABD'nin
Kürt Karti (The US' Kurdish Card), hlm. 307)
Hal ini mengarahkan pada satu kesimpulan saja:
Israel berperan penting dalam kebijakan Amerika
Serikat untuk melancarkan perang pertamanya
terhadap Irak. Perang yang kedua tidaklah banyak
berbeda.
ALIH-ALIH "PERANG TERHADAP
TERORISME"
Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas,
rencana untuk menyerang Irak dan
menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan
kekuatan senjata telah dipersiapkan dan
dicanangkan dalam agenda Washington sejak
lama sebelum dilancarkannya "perang mewalan
terror," yang mengemuka pasca peristiwa 11
September. Isyarat pertama adanya rencana ini
mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli
strategi pro-Israel di Washington mulai
memunculkan skenario penyerangan atas Irak
dengan memanfaatkan lembaga think-tank
"konservatif baru", yang dinamakan PNAC,
Project for The New American Century (Proyek
bagi Abad Amerika Baru).
Sebuah artikel berjudul "Invading Iraq Not a New
Idea for Bush Clique: 4 Years Before 9/11 Plan
Was Set" (Penyerangan atas Irak Bukan Gagasan
Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William
Bruch dan diterbitkan di the Philadelphia Daily
News, memaparkan fakta berikut:
Namun kenyataannya, Rumsfeld, Wakil Presiden
Dick Cheney, dan sekelompok kecil ideolog
konservatif telah memulai wacana penyerangan
Amerika atas Irak sejak 1997 – hampir empat
tahun sebelum serangan 11 September dan tiga
tahun sebelum Presiden Bush memegang
pemerintahan.
Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan
yang terdengar mengkhawatirkan, yang tidak
begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi Abad
Amerika Baru, atau PNAC – yang berhubungan
erat dengan Cheney, Rumsfeld, deputi tertinggi
Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara lelaki
Bush, Jeb – bahkan mendesak presiden waktu itu,
Clinton, untuk menyerbu Irak di bulan Januari
1998. (William Bunch, Philadelphia Daily News, 27
Jan. 2003)
MINYAKKAH YANG MENJADI TUJUAN
SEBENARNYA?
Mengapa para anggota PNAC sangat bersikukuh
untuk menggulingkan Saddam? Artikel yang
sama melanjutkan:
Meskipun minyak melatarbelakangi pernyataan
kebijakan PNAC terhadap Irak, namun tampaknya
ini bukanlah pendorong utama. [Ian] Lustick,
[seorang profesor ilmu politik Universitas
Pennsylvania dan ahli Timur Tengah,] yang juga
pengecam kebijakan Bush, mengatakan bahwa
minyak dipandang oleh para pendukung perang
terutama sebagai cara untuk membayar operasi
militer yang sangat mahal.
"Saya dari Texas, dan setiap orang perminyakan
yang saya kenal menentang tindakan militer
terhadap Irak," kata Schmitt dari PNAC. "Pasar
minyak tidak perlu diganggu."
Lustick yakin bahwa dalang tersembunyi yang
sangat berpengaruh kuat kemungkinan adalah
Israel. Ia mengatakan para pendukung perang
dalam pemerintahan Bush yakin bahwa parade
pasukan di Irak akan memaksa Palestina
menerima rancangan perdamaian yang
menguntungkan Israel"(William Bunch, "Invading
Iraq not a new idea for Bush clique" Philadelphia
Daily News, 27 Jan. 2003)
Jadi, inilah dorongan utama di balik rencana untuk
menyerang Irak: membantu strategi Israel di
Timur Tengah.
Fakta ini juga ditengarai oleh sejumlah ahli Timur
Tengah lainnya. Misalnya Cengiz Çandar, ahli
Timur Tengah asal Turki, memaparkan kekuatan
sesungguhnya di balik rencana penyerangan atas
Irak sebagaimana berikut:
"Siapakah yang mengarahkan serangan atas Irak?
Wakil Presiden Dick Cheney, Menteri Pertahanan
Rumsfeld, Penasehat Keamanan Dalam Negeri
Condoleeza Rice. Mereka inilah para pendukung
"tingkat tinggi" terhadap penyerbuan tersebut.
Akan tetapi, selebihnya dari gunung es tersebut
sungguh lebih besar dan lebih menarik. Terdapat
sejumlah "lobi."
Yang terdepan di barisan lobi ini adalah tim Jewish
Institute for Security Affairs (Lembaga Yahudi
untuk Masalah Keamanan) JINSA, yang
merupakan kelompok kanan Israel pro-Likud
yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan
industri-industri senjata AS" Mereka memiliki
hubungan erat dengan "lobi persenjataan,"
Lockheed, Northrop, General Dynamics dan
industri militer Israel" Prinsip mendasar JINSA
adalah bahwa keamanan AS dan Israel adalah tak
terpisahkan. Dengan kata lalin, keduanya adalah
sama.
Tujuan JINSA tidak terbatas pada merobohkan
rezim Saddam di Irak, tetapi juga mendukung
penggulingan rezim Saudi Arabia, Syria, Mesir
dan Iran dengan logika "perang total", yang diikuti
dengan "penegakan" demokrasi. …Dengan kata
lalin, sejumlah Yahudi Amerika yang seirama
dengan kelompok-kelompok paling ekstrim di
Israel sekarang terdiri atas orang-orang yang
mendukung perang di Washington. (Cengiz
Çandar, "Iraq and the 'Friends of Turkey'
American Hawks", Yeni Safak, 3 September
2002.)
PROYEK ISRAEL "PENGUASAAN DUNIA
SECARA DIAM-DIAM"
Singkatnya, terdapat kalangan di Washington
yang mendorong terjadinya perang yang
awalnya dilancarkan terhadap Irak, dan setelah itu
terhadap Saudi Arabia, Syria, Iran dan Mesir. Ciri
mereka paling kentara adalah mereka berbaris di
samping, dan bahkan sama dengan, "lobi Israel."
Tak menjadi soal betapa sering mereka berbicara
tentang "kepentingan Amerika," orang-orang ini
sebenarnya mendukung kepentingan Israel.
Strategi melancarkan peperangan terhadap
seluruh Timur Tengah sehingga menjadikan
seluruh rakyat di kawasan tersebut bangkit
melawan AS tak mungkin akan menguntungkan
pihak AS. Penggunaan strategi seperti ini hanya
mungkin dapat dilakukan jika AS tunduk pada
Israel, melalui lobi Israel, yang luar biasa
berpengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri
negara tersebut.
Dengan alasan ini, maka di belakang strategi yang
mulai dijalankan pasca 11 September dan yang
ditujukan untuk merubah peta seluruh dunia
Islam, terdapat rencana rahasia Israel untuk
"menguasai dunia." Sejak pendiriannya, Israel
telah bercita-cita merubah peta Timur Tengah,
menjadikannya mudah diatur sehingga tidak lagi
menjadi ancaman baginya. Israel telah
menggunakan pengaruhnya di AS untuk tujuan
ini di tahun-tahun belakangan, dan memiliki andil
besar dalam mengarahkan kebijakan Washington
di Timur Tengah. Keadaan pasca 11 September
memberi Israel kesempatan yang selama ini telah
dicari-carinya. Para ideolog pro-Israel yang
selama bertahun-tahun secara tidak benar telah
menyatakan bahwa Islam sendirilah yang – dan
bukan sejumlah kelompok radikal militan yang
berbaju Islam – memunculkan ancaman terhadap
Barat dan AS. Merekalah yang berusaha
meyakinkan kebenaran gagasan keliru tentang
"benturan antar peradaban," dan telah berupaya
mempengaruhi AS agar memusuhi dunia Islam
setelah peristiwa 11 September. Sudah sejak
tahun 1995, Israel Shahak dari Universitas
Hebrew, Jerusalem, menuliskan keinginan
Perdana Menteri Rabin sebagai "gagasan perang
melawan Islam yang dipimpin Israel." Nahum
Barnea, penulis opini dari surat kabar Israel,
Yediot Ahronot, menyatakan di tahun yang sama
bahwa Israel tengah mengalami kemajuan
"[untuk] menjadi pemimpin Barat dalam perang
melawan musuh, yakni Islam." (Israel Shahak,
"Downturn in Rabin's Popularity Has Several
Causes", Washington Report on Middle East
Affairs, Maret 1995.)
Semua yang telah terjadi di tahun-tahun
berikutnya adalah bahwa Israel menjadikan
niatannya semakin kentara. Iklim politik pasca 11
September memberikan peluang untuk
mewujudkan niatan ini menjadi kenyataan. Dunia
kini tengah menyaksikan tahap demi tahap
menerapan kebijakan Israel dalam memecah-
belah Irak, yang telah dirancang di Konggres
Zionis Dunia pada tahun 1982.
SATU-SATUNYA JALAN MENUJU
PERDAMAIAN DUNIA: PERSATUAN ISLAM
Keadaan di atas dapat dirangkum sebagai berikut:
Tujuan Israel adalah untuk menata ulang kawasan
Timur Tengah menurut kepentingan strategisnya
sendiri. Untuk mencapai hal ini, untuk menguasai
Timur Tengah, wilayah paling mudah bergejolak
di dunia, Israel memerlukan sebuah "kekuatan
dunia." Kekuatan ini adalah Amerika Serikat; dan
Israel, dengan kekuatan pengaruhnya terhadap
AS, tengah berupaya menggadaikan kebijakan
luar negeri AS terhadap Timur Tengah. Meskipun
Israel adalah sebuah negara kecil berpenduduk
4,5 juta jiwa, rencana yang disusun Israel dan
para pendukungnya di Barat mengendalikan
keseluruhan dunia.
Apa yang perlu dilakukan menghadapi kenyataan
ini?
1) Kegiatan melobi perlu dilakukan dalam rangka
menandingi pengaruh lobi Israel di Amerika
Serikat guna membangun dialog antara AS dan
dunia Islam, dan untuk mengajaknya mencari
cara damai dalam memecahkan permasalahan
Irak dan permasalahan serupa lainnya. Banyak
kalangan AS menginginkan negeri mereka
mengambil kebijakan Timur Tengah yang lebih
adil. Banyak negarawan, ahli strategi, wartawan
dan cendekiawan telah mengungkapkan hal ini,
dan gerakan "perdamaian antar peradaban" harus
digulirkan dengan bekerjasama dengan kalangan
tersebut.
2) Pendekatan yang mengajak pemerintah AS
kepada pemecahan masalah secara damai
haruslah dibawa ke tingkat pemerintahan dan
masyarakat sipil.
Bersamaan dengan ini semua, jalan keluar paling
mendasar terletak pada sebuah proyek yang
dapat menyelesaikan seluruh permasalahan
antara dunia Islam dan Barat, dan dapat
mengatasi perpecahan, penderitaan dan
kemiskinan di dunia Islam dan sama sekali
merubahnya, dan ini adalah Persatuan Islam.
Perkembangan terakhir telah menunjukkan
bahwa seluruh dunia, tidak hanya wilayah-
wilayah Islam, memerlukan sebuah "Persatuan
Islam." Persatuan ini haruslah mampu meredam
unsur-unsur radikal di Dunia Islam, dan
membangun hubungan baik antar negara-negara
Islam dan Barat, khususnya Amerika Serikat.
Persatuan ini juga hendaknya membantu
menemukan jalan keluar bagi induk dari seluruh
permasalahan yang ada: perseteruan Arab-Israel.
Hanya dengan penarikan diri Israel hingga batas
wilayahnya sebelum tahun 1967, dan pengakuan
bangsa Arab atas keberadaannya, akan ada
perdamaian sesungguhnya di Timur Tengah. Dan
umat Yahudi dan Muslim – yang keduanya
keturunan Nabi Ibrahim dan beriman pada satu
Tuhan saja – dapat hidup berdampingan di Tanah
Suci, sebagaimana yang telah mereka tunjukkan
di abad-abad yang lalu. Dengan demikian, Israel
takkan lagi memerlukan strategi untuk
mengganggu keamanan atau memecah-belah
negara-negara Arab. Dan Israel takkan
menghadapi balasan atas pendudukannya dalam
bentuk kekerasan dan ketakutan terus-menerus
terhadap upaya penghancuran terhadapnya. Lalu,
keduanya, anak-anak Israel dan Irak (juga
Palestina) dapat tumbuh dalam lingkungan yang
damai dan aman. Inilah wilayah Timur Tengah
yang seharusnya didambakan dan berusaha
diwujudkan oleh setiap orang yang bijak.
Ke indeks artikel

0 komentar:

Posting Komentar