Sabtu, 21 Mei 2011

Mengapa Semut tidak Dimangsa Si Kantong Semar?

Di dalam kantung tumbuhan “kantong-semar“
Nepenthes bicalcarata yang hidup di sebelah India
Timur, hiduplah koloni semut. Tumbuhan ini
bentuknya seperti teko dan memangsa serangga
yang menghinggapinya. Meskipun demikian,
semut bebas bergerak dan mengambil sisa-sisa
serangga dan bahan makanan lainnya dari
tumbuhan ini.
Kerja sama ini menguntungkan kedua belah
pihak, semut dan tumbuhan. Meski semut
mungkin saja dimakan Nepenthes, mereka dapat
membangun sarang pada tumbuhan ini. Sang
tumbuhan juga menyisakan jaringan tertentu dan
sisa-sisa serangga untuk semut. Dan sebagai
balasannya, semut melindungi tumbuhan dari
musuhnya.
Begitulah contoh hubungan kehidupan antara
tumbuhan dan semut. Bentuk anatomi dan
fisiologi semut dan tumbuhan inangnya telah
dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan
hubungan timbal balik antara keduanya. Meskipun
para pembela teori evolusi menyatakan bahwa
hubungan antarjenis makhluk hidup ini
berkembang secara berangsur-angsur selama
jutaan tahun, tetapi tentu saja pernyataan yang
mengatakan bahwa dua makhluk yang tidak
memiliki kecerdasan ini dapat sepakat
merencanakan suatu sistem yang
menguntungkan kedua belah pihak tidaklah
masuk akal. Lalu, apa yang menyebabkan semut
hidup pada tumbuhan?
Semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena
adanya cairan bernama "nektar tersisa" yang
dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar ini
merupakan daya tarik bagi semut untuk
mendatangi tumbuhan. Banyak spesies
tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini
pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, pohon ceri
hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga minggu
dalam setahun. Tentu pengeluaran cairan pada
waktu ini bukan kebetulan karena waktu tiga
minggu ini bertepatan dengan satu-satunya
waktu sejenis ulat menyerang pohon ceri hitam.
Semut yang tertarik pada nektar dapat
membunuh ulat ini serta melindungi tumbuhan.
Hanya
dengan
menggunakan
akal
sehat,
kita dapat
melihat
bahwa
hal ini
adalah
bukti
hasil
penciptaan.
Akal
sehat
tidak
mungkin
bisa
menerima
bahwa
pohon ini
dapat
memperhitungkan
kapan
bahaya
akan menyerang lalu memutuskan bahwa cara
terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan
cara menarik perhatian semut serta mengubah
struktur kimianya. Pohon ceri tidak punya otak.
Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir,
memperhitungkan, maupun mengubah
campuran kimianya. Bila kita menganggap bahwa
cara cerdas ini adalah sifat yang diperoleh dari
suatu kebetulan, yaitu dasar berpikir evolusi, tentu
ini tidaklah masuk akal. Jelas sekali bahwa pohon
ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada
kecerdasan dan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang
dapat kita tarik adalah bahwa sifat tumbuhan ini
telah terbentuk karena adanya sebuah Kehendak
yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk
pada segala bentuk pengaturan yang dibuat-Nya,
jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa atas
pohon, tetapi juga atas semut dan ulat. Jika
penelitian dilakukan lebih jauh lagi, tentunya dapat
diketahui bahwa Dia berkuasa atas semesta alam
dan telah mengatur setiap bagian alam secara
terpisah namun serasi dan selaras, sehingga
membentuk sebuah rangkaian sempurna yang
kita kenal sebagai "keseimbangan ekologi". Bila
kita berpikir lebih jauh dan meneliti bidang-bidang
lain, seperti geologi dan astronomi, kita akan
sampai pada gambaran yang serupa. Ke mana
pun kita melangkah, kita akan menyaksikan
berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras dan
teratur sempurna. Semua sistem ini
menunjukkan keberadaan Sang Pengatur.
Meskipun demikian, tidak satu pun unsur
pembentuk alam ini yang mampu berfungsi
sebagai Sang Pengatur itu. Oleh karena itu sang
pengatur haruslah Dia Yang Maha Tahu dan
Mahakuasa atas alam semesta. Al Quran
menggambarkan Sang Penguasa sebagai berikut:
"Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang
Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang
Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik.
Bertasbih kepadanya apa yang ada di langit
dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa
lagi Mahabijaksana."
(QS. Al-Hasyr, 59:24)

0 komentar:

Posting Komentar