Minggu, 22 Mei 2011

imam syafii

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah
Muhammad bin Idris. Beliau dilahirkan di Gaza,
Palestina, tahun 150 H, dan ayahnya meninggal
ketika masih bayi, sehingga beliau hanya
dipelihara oleh ibunya yang berasal dari Qabilah
Azad dari Yaman. Diwaktu kecil Imam Syafii
hidup dalam kemiskinan dan penderitaan sebagai
anak yatim dalam “dekapan” ibundanya . Oleh
karena itu ibunya berpendapat agar sebaiknya
beliau (yang ketika itu masih kecil) dipindahkan
saja ke Makkah (untuk hidup bersama keluarga
beliau disana). Maka ketika berusia 2 tahun beliau
dibawa ibundanya pindah ke Makkah.
Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan bertepatan
dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah oleh
karena itu orang-orang berkata : “telah meninggal
Imam dan lahirlah Imam”. Pada usia 7 tahun
beliau telah menghafal Al Qur’an. Dan suatu sifat
dari Imam Safi’i adalah, jika beliau melihat
temannya diberi pelajaran oleh gurunya, maka
pelajaran yang dipelajari oleh temannya itu dapat
beliau pahami. Demikian pula jika ada orang yang
membacakan buku dihadapan Imam Syafi ’i, lalu
beliau mendengarkannya, secara spontan beliau
dapat menghafalnya. Sehingga kata gurunya :
“ Engkau tak perlu belajar lagi di sini (lantaran
kecerdasan dan kemampuan beliau untuk
menyerap dan menghafal ilmu dengan hanya
mendengarkan saja )”.
Setelah beberapa tahun di Makkah, Imam Syafi’i
pergi ke tempat Bani Hudzail dengan tujuan untuk
belajar kepada mereka. Bani Hudzail adalah
Kabilah yang paling fasih dalam berbahasa Arab.
Beliau tinggal di tempat Bani Hudzail selama 17
tahun. Ditempat ini beliau beliau banyak
menghafal sya ’ir-sya’ir, memahami secara
mendalam sastra Arab dan berita-berita tentang
peristiwa yang dialami oleh orang-orang Arab
dahulu.
Pada suatu hari beliau bertemu dengan Mas’ab
bin Abdullah bin Zubair yang masih ada
hubungan famili dengan beliau. Mas ’ab bin
Abdullah berkata : “Wahai Abu Abdullah (yaitu
Imam Syafi’i), sungguh aku menyayangkanmu,
engkau sungguh fasih dalam berbahasa Arab,
otakmu juga cerdas, alangkah baiknya
seandainya engkau menguasai ilmu Fiqih sebagai
kepandaianmu. ” Imam Syafi’i : “Dimana aku
harus belajar?” Mas’ab bin Abdullah pun
menjawab : “Pergilah ke Malik bin Anas”. Maka
beliau pergi ke Madinah untuk menemui Imam
Malik. Sesampainya di Madinah Imam Malik
bertanya : “Siapa namamu?”. “Muhammad”
jawabku. Imam Malik Berkata lagi : “Wahai
Muhammad bertaqwalah kepada Allah dan
jauhilah laranganNya maka engkau akan menjadi
orang yang disegani di kemudian hari ”. Esoknya
beliau membaca al Muwaththa’ bersama Imam
Malik tanpa melihat buku yang dipegangnya,
maka beliau disuruh melanjutkan membaca,
karena Imam Malik merasa kagum akan kefasihan
beliau dalam membacanya.
Al Muwaththa’ adalah kitab karangan Imam Malik
yang dibawa beliau dari seorang temannya di
Mekkah. Kitab tersebut beliau baca dan dalam
waktu 9 hari, dan beliau telah
menghafalnya.Beliau tinggal di Madinah sampai
Imam Malik meninggal dunia, kemudian beliau
pergi ke Yaman.
Kunjungan Imam Syafi’i Keberbagai Tempat
Sudah menjadi kebiasaan ulama’-ulama’ pada
masa Imam Syafi’i yaitu berkunjung ke berbagai
negeri untuk menimba ilmu di tempat tersebut.
Mereka tidak perduli terhadap rintangan-rintangan
yang akan mereka hadapi. Demikian pula Imam
Syafi ’i berkunjung ke berbagai tempat untuk
menimba ilmu dengan sungguh-sungguh dan
memperoleh manfaatnya. Sebagaimana yang
telah diketahui tentang perjalanannya dari Mekkah
ke Bani Hudzail, kemudian kembali ke Mekkah dan
perjuangannya untuk menemui Imam Malik, dan
setelah meninggalnya Imam Malik beliau pergi
keYaman dan selanjutnya pergi ke Baghdad dan
kembali ke Madinah , dan setelah itu kembali lagi
ke Baghdad kemudian ke Mesir.
Kunjungan-kunjungan itu menghasilkan banyak
ilmu dan pengalaman baginya serta membuatnya
gigih dalam menghadapi berbagai rintangan
dalam membela kebenaran dan membela Sunnah
Rasulullah saw. Sehingga namanya menjadi
terkenal dan disegani umat Islam di zamannya.
Imam Ahmad Bin Hambal berkata tentang
gurunya Imam Syafi ’i rahimahullah telah
diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Inna Allaha yub’astu lihadzihil ummah ‘ala ra’si
kulla miati sanatin man yujaddidu laha diinaha”
“Sesungguhnya Allah swt mengutus (mengirim)
seseorang kepada umat ini setiap seratus tahun
untuk memperbarui urusan agamanya ”. (shahih
sunan Abu daud hadits no : 4291)
Kemudian Imam Ahmad bin Hambal
menambahkan dengan berkata : “Umar bin Abdul
Aziz adalah orang yang pertama dan mudah-
mudahan Imam Syafi ’i adalah yang kedua”.
Ilmu Yang Dimiliki Oleh Imam Syafi’i rahimahullah
Imam Syafii rahimahullah memiliki ilmu yang luas
seperti yang dikatakan Ar Rabbii bin Sulaiman :
“ Setiap selesai shalat shubuh Imam Syafi’i selalu
duduk dikelilingi orang-orang yang ingin bertanya
tentang tafsir Al Qur ’an. Dan seandainya matahari
telah terbit, barulah orang-orang itu berdiri dan
bergantian dengan orang-orang lain yang ingin
bertanya juga tentang hadits, serta tafsirnya.
Beberapa jam kemudian ganti orang-orang lain
untuk bertanya-jawab. Dan sebelum waktu
dhuhur mereka pergi disusul oleh orang-orang
yang bertanya tentang nahwu, urudh dan syai’r
sampai waktu dhuhur”. Mas’ab bin Abdullah Az
Zubairi berkata : “Aku belum pernah melihat
seseorang yang lebih mengetahui peristiwa
tentang orang-orang Arab dahulu seperti Imam
Syafi ’i”. Abu Isma’il At Tarmudzi juga berkata :
“Aku perna mendengar Ishak bin Rahawih
berceritra : “ketika kami berada di Makkah Imam
Bin Hambal rahimahullah, berkata kepadaku :
“ Wahai abu Ya’kub belajarlah kepada orang ini
”Seraya memandang Imam Syafi’i””.
Kemudian aku berkata : “Apa yang akan aku
peroleh dari orang ini, sementara usianya hampir
sama dengan kita? Apakah aku tidak merugi
seandainya meninggalkan Ibnu Uyainah dan
Mugni ?”. Imam Ahmad pun menjawab : “Celaka
engkau! Ilmu orang-orang itu dapat engaku
tinggalkan tapi Ilmu orang ini tidak dapat ”. Lalu
aku belajar padanya.
Imam Ahmad bin hambal menambahkan tentang
Imam Syafi ’I, adalah beliau orang yang paling
paham (pengetahuannya) tentang Al Qur’an dan
Sunnah Rasulullah saw.
Kesederhanaan Dan ketaatan Imam Syafi’i Pada
Kebenaran Al Imam Syafi’i rahimahullah terkenal
akan kesederhanaan dan (ketaatan) dalam
menerima kebenaran. Hal ini telah dibuktikan
dalam diskusi-diskusi dan tadarus-tadarusnya
serta pergaulan murid-murid, teman-teman dan
orang umum. Banyak orang yang telah
meriwayatkan sifat-sifat yang telah dimilikioleh
Imam Syafi’i yang seolah-olah sifat itu hanya
dimiliki oleh beliau saja.
Al Hasan bin Abdul Aziz Al Jarwi Al Masri (dia
adalah Abu Ali Al Judzami, guru Syeikh Al Bukhari
yang meninggal di Baghdad pada tahu 257 H)
berkata : “As Syafi’i mengatakan : “tidak pernah
terbesit dalam hatiku agar seseorang bersalah bila
berdiskusi denganku, malah aku menginginkan
agar semua ilmu yang kumiliki juga dimiliki oleh
semua orang tanpa menyebut namaku ””.
Dan Ar Rabii berkata : “Ketika aku mengunjungi
As Syafi’i sakit, beliau masih sempat
menyebutkan buku-buku yang telah ditulisnya
dan berkata : “Aku ingin semua orang
membacanya tanpa mengkaitkanya dengan
namaku ””.
Harmalah bin Yahya juga mengatakan : “Aku
pernah mendengar As Syafi’i berkata : “Aku ingin
setiap ilmu yang kumiliki, dimiliki oleh semua
orang dan aku mendapatkan pahalanya tanpa
ucapan terima kasih dari orang-orang itu ”.” Beliau
juga mengatakan demikian :
“Idza wajadtum fii kitaabii khilafa sunnati rasulillahi
sallallahu ‘alaihi wasallam, fakuuluu sunnati
rasulillahi sallallahu ‘alaihi wasallam, wa da’uu ma
kultu”
“jika kalian mendapati dalam kitabku (suatu
tulisan) yang menyelisihi sunnah Rasulullah saw ,
maka ambillah sunnah Rasulullah saw dan
tinggalkan perkataanku.
Dan beliau juga berkata :
“Idza sohhal hadits fahuwa madzhabii”
“jika hadits Nabi saw (derajatnya) shahih, maka
itulah madhabku”
“Kullu haditsin ‘anin nabi saw fahuwa kaulii, wain
lam tasma’uu minni”
“setiap hadits dari Nabi saw adalah pendapatku,
walaupun kalian tidak pernah mendengarkan
dariku ”
“Kullu maa kultu, fakaana ‘aninnabiyyi khilafu kaulii
mimma yashihhu, fahadtsun nabiyyi awlaa, falaa
tukalliduunii ”
“segala pendapat yang aku katakan ,sedangkan
hadits Nabi saw yang shahih menyelisihi
perkataanku, maka hadits Nabi saw lebih utama
(untuk diikuti) , dan janganlah kalian taklid
kepadaku ”.
Imam Syafi’i rahimahullah sendiri berkata : “Demi
Allah aku belum pernah berdiskusi dengan
seseorang kecuali dengan tujuan nasihat ”.
Seandainya aku menyampaikan tentang
kebenaran kepada seseorang dengan bukti-bukti
yang tepat, lalu diterima dengan baik, maka aku
akan menjadi sayang dan akrab dengan orang
tersebut. Sebaliknya jika orang tersebut sombong
dan membantah bukti-bukti tadi, maka seketika
itu juga orang tersebut jatuh dalam
pandanganku ”.
Dan beliau juga berkata : “ketahuilah bahwa
perbuatan yang terberat itu ada tiga : “Memiliki
harta sedikit tetapi dermawan. Takut kepada Allah
swtdalam kedaaan sepi, dan mengatakan
kebenaran kepada orang yang diharapkan serta
ditakuti banyak orang ”.
Ketaatannya Dan Ibadahnya Kepada Allah swt.
Tentang ketaatan Imam Syafii dan ibadahnya
kepada Allah, semua orang yang bergaul
dengannya, guru maupun murid, tetangga
maupun teman, semuanya mengakuinya.
Ar Rabii bin Sulaiman mengatakan : “Imam Syafii
telah mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 60 kali
di bulan Ramadhan yang kesemuanya itu terbaca
dalam shalatnya ”. Dan Imam Syafii pernah
berkata kepadaku : “Semenjak usia 16 tahun aku
belum pernah merasa kenyang, kecuali hanya
sekali saja. Karena kenyang itu memberatkan
badan, mengeraskan hati dan dapat
menghilangkan kecerdasan, mendatangkan rasa
kantuk serta membuat malas seseorang untuk
beribadah ”.
Rabii juga mengatakan bahwa Syafi’i membagi
malam menjadi tiga bagian, bagian pertama
untuk menulis, bagian kedua untuk shalat dan
bagian ketiga untuk tidur.
Kedermawanannya Imam Syafi’i rahimahullah
terkenal dengan kedermawanannya. Hal ini tidak
bisa dipungkiri atau diragukan lagi. Muhammad
bin Abdullah Al Misri berkata : “Imam Syafii adalah
orang yang paling dermawan terhadap apa yang
dimilikinya ”.
Dan Amr bin Sawwad As Sarji berkata : “Imam
Syafii adalah orang yang paling dermawan dalam
hal keduniaan. Beliau pernah berkata kepadaku :
“ Aku pernah bangkrut sebanyak tiga kali dalam
hidupku, sampai aku menjual semua barang-
barang yang aku miliki, baik yang mahal maupun
yang murah, juga perhiasan anak dan istriku
tetapi aku belum pernah menggadaikannya ””.
Muhammad Al Busti As Sajastani juga
mengatakan : “Imam Syafi’i rahimahullah belum
pernah menyimpan sesuatu karena
kedermawanannya ”. Al Humaidi juga berkata
tentang Syafi’i ketika beliau datang dari Makkah,
Imam Syafii membawa uang sebanyak 10.000
dinar, kemudian bermukim di pinggiran kota
Makkah, dan dibagi-bagikan uang itu kepada
orang yang mengunjunginya. Dan ketika beliau
meninggalkan tempat itu uangnya sudah habis.
Ar Rabbii’ menambahkan tentang hal ini :
“Seandainya Imam Syafi’i didatangi oleh
seseorang untuk meminta kepadanya, maka
wajahnya merah karena malu kepada orang
tersebut, lalu dengan cepat dia akan
memberinya ”.
Bukti-bukti tentang kedermawanan Imam Syafi’i
rahimahullah banyak sekali dan tidak mungkin
untuk mengungkapkannya di dalam lembaran
yang pendek ini.
Wafatnya Imam Syafi’i rahimahullah Di Mesir (Di
Fisthath) Tahun 204 H Al Muzni berkata ketika aku
mengunjungi beliau yang sakit yang tidak lama
kemudian beliau meninggal, aku bertanya
kepadanya bagaimana keadaanmu? Beliau
menjawab : “Tidak lama lagi aku akan
meninggalkan dunia ini, meninggalkan saudara-
saudaraku dan akan menjumpai Allah swt. Aku
tidak tahu apakah aku masuk surga atau neraka ”.
Kemudian beliau menangis dan mengucapkan
sebuah sya ’ir
“Falamma kosaa kalbii wa dookot madzahidii
ja’altu rajaai nahwa ‘afwika sullamaa”
“ketika hatiku membeku dan menyempit semua
jalan bagiku,
aku jadikan harapanku sebagai tangga untuk
menuju ampunanMu ”.
Rabii’ bin Sulaiman berkata : “Al Imam Syafi’i
meningl dunia pada malam jum’at, sehabis isya’
akhir bulan Rajab. Kami menguburkannya pada
hari jum ’at, dan ketika kami meninggalkan
pemakaman itu kami melihat bulan (hilal) Sya’ban
204”.
Ar Rabbii’ bercerita : “Beberapa hari setelah
berpulangnya Imam Syafi’i rahimahullah ke
Rahmatullah dan ketika itu kami sedang duduk
berkeliling seperti tatkala Imam Syafi ’i masih
hidup, datang seorang badui dan bertanya :
“ Dimana matahari dan bulan (yaitu Imam Syafi’i)
yang selalu hadir di tengah-tengah kalian?” kami
menjawab : “Beliau telah wafat” kemudian orang
itu menangis tersedu-sedu seraya berkata :
“ Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-
dosanya, sesungguhnya beliau dengan kata-kata
yang indah telah membuka bukti-bukti yang
dahulu tidak pernah kita ketahui. Dan mampu
membuat bungkam musuh-musuhnya dengan
bukti yang benar. Serta telah mencuci besih
wajah-wajah yang menghitam karena aib dan
membuka pintu-pintu yang dulu tertutup dengan
pendapat-pendapatnya ”. Setelah berucap kata-
kata itu dia meninggalkan tempat itu”.
Ibnu Khollikan (penulis buku Wafiati A’yan)
berkata : “Seluruh ulama’ hadits, fiqhi, usul,
lughah, nahwu dan lain-lain sepakat bahwa Al
Imam Syafi ’i rahimahullah adalah orang yang
tidak diragukan lagi kejujurannya, amanatnya,
adilnya, zuhudnya, taatnya, akhlaqnya,
kedermawannya dan kewibawaannya dikalangan
para ulama ’”.
Abu Hasan Al Razi berkata : “Aku belum pernah
melihat Muhammad Al Hasan mengagungkan
seorang ulama ’ seperti dia mengagungkan Al
Imam Syafi’i rahimahullah.”.
Abdullah din Ahmad bin Hambal betanya kepada
ayahnya : “Ayah, bagaimana Imam Syafi’i itu?
Aku sering kali melihatmu mendoakannya”.
Imam Ahmad bin hambal menjawab : “ketahuilah
anakku, bahwa Imam Syafi’i itu ibarat matahari
bagi dunia dan kesehatan bagi manusia.
Seandainya keduanya itu tidak ada, bagaimana
mungkin dapat digantikannya dengan yang lain?”.
Hidup Mulia atau Mati Syahid!!!

0 komentar:

Posting Komentar