Minggu, 22 Mei 2011

yang Penting kan Hatinya!

Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum
muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang
‘ ngetrend’ dan biasa kita dengar adalah “Buat apa
berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih,
masih suka ‘ngerumpi’ berbuat maksiat dan
dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab!
Yang penting kan hati !” lalu tercenunglah saudari
kita ini membenarkan pendapat kawannya tadi.
Syubhat lainnya lagi adalah “Liat tuh kan ada
hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak
melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat
pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati,
menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula
keislaman kita walau kita tidak berkerudung!.
Benarkah demikian ya ukhti,, ??
Saudariku muslimah semoga Allah
merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan
berpendapat demikian maka wajiblah baginya
untuk bertaubat kepada Allah Ta ’ala memohon
ampun atas kejahilannya dalam memahami
syariat yang mulia ini. Jika agama hanya
berlandaskan pada akal dan perasaan maka
rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan
kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci,
maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang
yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan
orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada
diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah
lembut, dermawan, bijaksana.
Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka
adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan
“ tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan
syahadatain, mereka tidak memeluk islam,
perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan
orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan
saya bahwa kita menghukumi seseorang
berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir)
dalam diri orang itu.
Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat
seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab,
apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah
ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya
karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan
wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul
fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir
amma al bawathin fahukmuhu “ala llah’ artinya
hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak
adapun yang batin hukumnya adalah terserah
Allah.
Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan
kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula
istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat).
Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya,
paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi
mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka
berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31
dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat
termaktub mereka menolak perintah Allah Ta ’ala.
Justru yang kita dapati mereka merobek tirai
mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai
bukti ketaatan mereka.Apa yang ingin anda
katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas,
banyak diantara saudara kita yang tidak
mengetahui bahwa hadits diatas ada
sambungannya.
Lengkapnya adalah sebagai berikut: “Dari Abu
Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu
anhu dia berkata, Rasulullah bersabda:
“ Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk
tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk
rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati
kalian ” (HR. Muslim 2564/33).
Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada
nomor hadits 34 sebagai berikut: “Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan
juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan
perbuatan kalian. ” (HR.Muslim 2564/34).
Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal.
Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan
hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu
kaum muslimin tidak perlu bersusah payah
menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan
Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau
bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga
untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah
atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat
tidak akan berlomba-lomba dalam beramal
(beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh
mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka
bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka
adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah
satu kisah indah diantara kisah-kisah indah
lainnya.
Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya,
Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya
adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah
adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah
Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah
Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab
dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang
hatinya, ia adalah orang yang paling lembut
hatinya toh masih bersusah payah giat beramal,
bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang
pohon yang tegak tidak bergeming karena
lamanya ia berdiri ketika shalat. Aduhai,..betapa
lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-
angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat
jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan
generasi pendahulu kita. Wallahu ’alam bish-
shawwab.
Muraja’ah oleh ust. Eko Hariyanto Lc, Mahasiswa
paska sarjana Fakultas Syari’ah Universitas Imam
Ibnu Saud, Riyadh,KSA.

0 komentar:

Posting Komentar