Minggu, 22 Mei 2011

menjadi orang asing di dunia

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau
berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam
pernah memegang kedua pundakku seraya
bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang
asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika
engkau berada di sore hari jangan menunggu
datangnya pagi dan jika engkau berada pada
waktu pagi hari jangan menunggu datangnya
sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum
sakit dan masa hidupmu sebelum mati ” (HR.
Bukhori)
Penjelasan Hadits ini adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Umar berisi nasihat nabi
shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Hadits
ini dapat menghidupkan hati karena di dalamnya
terdapat peringatan untuk menjauhkan diri dari
tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan
sebagainya.
Ibnu Umar berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi
wa sallam pernah memegang kedua pundakku”,
hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada
beliau, dan saat itu umur beliau masih 12 tahun.
Ibnu Umar berkata: “beliau pernah memegang
kedua pundakku”. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti
orang asing atau penyeberang jalan”. Jika
manusia mau memahami hadits ini maka di
dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai
dengan realita. Sesungguhnya manusia (Adam –
pent) memulai kehidupannya di surga kemudian
diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka
manusia adalah seperti orang asing atau musafir
dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di
dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya
orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal
Adam dan orang yang mengikutinya dalam
masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan
keikhlasan pada Alloh adalah surga.
Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah
sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan
maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau
merenungkan hal ini, maka engkau akan
berkesimpulan bahwa seorang muslim yang
hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya
dan mendidiknya dengan prinsip bahwa
sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga,
bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang
penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang
asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan
oleh Al Musthofa shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim
rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa
kerinduan, kecintaan dan harapan seorang
muslim kepada surga adalah karena surga
merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang
muslim sekarang adalah tawanan musuh-
musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena
iblis telah menawan bapak kita, Adam
‘ alaihissalam dan dia melihat, apakah dia akan
dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak.
Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan
seorang penyair: Palingkan hatimu pada apa saja
yang kau cintai Tidaklah kecintaan itu kecuali pada
cinta pertamamu Yaitu Alloh jalla wa ‘ala
Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang
ditempati seseorang Dan selamanya
kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya
yang semula Yaitu surga.
Demikianlah, hal ini menjadikan hati senantiasa
bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa ‘ala.
Yaitu orang yang hati mereka senantiasa
bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan,
harapan, rasa cemas, dan ketaatan. Hati mereka
pun selalu terkait dengan negeri yang penuh
dengan kemuliaan yaitu surga. Mereka
mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di
depan mata mereka. Mereka berada di dunia
seperti orang asing atau musafir. Orang yang
berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah
orang asing atau musafir tidak akan merasa
senang dengan kondisinya sekarang. Karena
orang asing tidak akan merasa senang kecuali
setelah berada di tengah-tengah keluarganya.
Sedangkan musafir akan senantiasa
mempercepat perjalanan agar urusannya segera
selesai.
Demikianlah hakikat dunia. Nabi Adam telah
menjalani masa hidupnya. Kemudian disusul oleh
Nabi Nuh yang hidup selama 1000 tahun dan
berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun,
“ Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun
kurang lima puluh tahun” (QS Al Ankabut: 14)
Kemudian zaman beliau selesai dan telah berlalu.
Kemudian ada lagi sebuah kaum yang hidup
selama beberapa ratus tahun kemudian zaman
mereka berlalu. Kemudian setelah mereka, ada
lagi kaum yang hidup selama 100 tahun, 80
tahun, 40 tahun 50 tahun dan seterusnya. Hakikat
mereka adalah seperti orang asing atau musafir.
Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi
meninggalkannya. Kematian akan menimpa
setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib
untuk memberikan perhatian pada dirinya.
Musibah terbesar yang menimpa seseorang
adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian
tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh
memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa
memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah
negeri yang asing, negeri yang penuh ujian,
negeri tempat berusaha, negeri yang sementara
dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi
sehat. Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini
maka kematian dapat menimpa hatimu. Semoga
Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk
kelalaian.
Kemudian Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma
melanjutkan dengan berwasiat, “Jika engkau
berada di sore hari jangan menunggu datangnya
pagi dan jika engkau berada pada pagi hari jangan
menunggu datangnya sore. ”
Yaitu hendaklah Anda senantiasa waspada
dengan kematian yang datang secara tiba-tiba.
Hendaklah Anda senantiasa siap dengan
datangnya kematian. Disebutkan dari para ulama
salaf dan ulama hadits bahwa jika seseorang
diberi tahu bahwa kematian akan datang
kepadanya malam ini, maka belum tentu dia
dapat menambah amal kebaikannya.
Jika seseorang diberi tahu bahwa kematian akan
datang kepadanya malam ini, maka belum tentu
dia dapat menambah amal kebaikannya. Hal ini
dapat terjadi dengan senantiasa mengingat hak
Alloh. Jika dia beribadah, maka dia telah
menunaikan hak Alloh dan ikhlas dalam beribadah
hanya untuk Robbnya. Jika dia memberi nafkah
pada keluarganya, maka dia melakukannya
dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat. Jika dia
berjual beli, maka dia akan melakukan dengan
ikhlas dan senantiasa berharap untuk
mendapatkan rezeki yang halal. Demikianlah,
setiap kegiatan yang dia lakukan, senantiasa
dilandasi oleh ilmu. Ini adalah keutamaan orang
yang memiliki ilmu, jika mereka bertindak dan
berbuat sesuatu maka dia akan senantiasa
melandasinya dengan hukum syariat. Jika mereka
berbuat dosa dan kesalahan, maka dengan segera
mereka akan memohon ampunan. Maka dia akan
seperti orang yang tidak berdosa setelah
beristigfar. Ini adalah kedudukan mereka. Oleh
karena itu Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma
mengatakan: “Pergunakanlah masa sehatmu
sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum
mati ” (HR. Bukhori

0 komentar:

Posting Komentar