Sabtu, 21 Mei 2011

"HAMAN" DAN BANGUNAN MESIR KUNO

Al Qur'an mengisahkan kehidupan Nabi Musa AS
dengan sangat jelas. Tatkala memaparkan
perselisihan dengan Fir'aun dan urusannya
dengan Bani Israil, Al Qur'an menyingkap
berlimpah keterangan tentang Mesir kuno.
Pentingnya banyak babak bersejarah ini hanya
baru-baru ini menjadi perhatian para pakar dunia.
Ketika seseorang memperhatikan babak-babak
bersejarah ini dengan pertimbangan, seketika
akan menjadi jelas bahwa Al Qur'an, dan sumber
pengetahuan yang dikandungnya, telah
diwahyukan oleh Allah Yang Mahatahu
dikarenakan Al Qur'an bersesuaian langsung
dengan seluruh penemuan besar di bidang ilmu
pengetahuan, sejarah dan kepurbakalaan di masa
kini.
Satu contoh pengetahuan ini dapat ditemukan
dalam paparan Al Qur'an tentang Haman:
seorang pelaku yang namanya disebut di dalam
Al Qur'an, bersama dengan Fir'aun. Ia disebut di
enam tempat berbeda dalam Al Qur'an, di mana
Al Qur'an memberitahu kita bahwa ia adalah salah
satu dari sekutu terdekat Fir'aun.
Anehnya, nama “Haman” tidak pernah disebutkan
dalam bagian-bagian Taurat yang berkaitan
dengan kehidupan Nabi Musa AS. Tetapi,
penyebutan Haman dapat ditemukan di bab-bab
terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja
Babilonia yang melakukan banyak kekejaman
terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah
Nabi Musa AS. Al Qur'an, yang jauh lebih
bersesuaian dengan penemuan-penemuan
kepurbakalaan masa kini, benar-benar memuat
kata “Haman” yang merujuk pada masa hidup
Nabi Musa AS.
Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap
Kitab Suci Islam oleh sejumlah kalangan di luar
Muslim terbantahkan tatkala naskah hiroglif
dipecahkan, sekitar 200 tahun silam, dan nama
“Haman” ditemukan di naskah-naskah kuno itu.
Hingga abad ke-18, tulisan dan prasasti Mesir
kuno tidak dapat dipahami. Bahasa Mesir kuno
tersusun atas lambang-lambang dan bukan kata-
kata, yakni berupa hiroglifik. Gambar-gambar ini,
yang memaparkan kisah dan membukukan
catatan peristiwa-peristiwa penting sebagaimana
kegunaan kata di zaman modern, biasanya diukir
pada batu dan banyak contoh masih terawetkan
berabad-abad. Dengan tersebarnya agama
Nasrani dan pengaruh budaya lainnya di abad
ke-2 dan ke-3, Mesir meninggalkan kepercayaan
kunonya beserta tulisan hiroglif yang berkaitan
erat dengan tatanan kepercayaan yang kini telah
mati itu. Contoh terakhir penggunaan tulisan
hiroglif yang diketahui adalah sebuah prasasti dari
tahun 394. Bahasa gambar dan lambang telah
terlupakan, menyisakan tak seorang pun yang
dapat membaca dan memahaminya. Sudah tentu
hal ini menjadikan pengkajian sejarah dan
kepurbakalaan nyaris mustahil. Keadaan ini tidak
berubah hingga sekitar 2 abad silam.
Pada tahun 1799, kegembiraan besar terjadi di
kalangan sejarawan dan pakar lainnya, rahasia
hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui
penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu
Rosetta.” Penemuan mengejutkan ini berasal dari
tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah
ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk
tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan
tangan bersambung Mesir kuno) dan Yunani.
Dengan bantuan naskah Yunani, tulisan Mesir
kuno diterjemahkan. Penerjemahan prasasti ini
diselesaikan oleh orang Prancis bernama Jean-
Françoise Champollion. Dengan demikian, sebuah
bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa
yang dikisahkannya terungkap. Dengan cara ini,
banyak pengetahuan tentang peradaban, agama
dan kehidupan masyarakat Mesir kuno menjadi
tersedia bagi umat manusia dan hal ini membuka
jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak
tentang babak penting dalam sejarah umat
manusia ini.
Melalui penerjemahan hiroglif, sebuah
pengetahuan penting tersingkap: nama “Haman”
benar-benar disebut dalam prasasti-prasasti
Mesir. Nama ini tercantum pada sebuah tugu di
Museum Hof di Wina. Tulisan yang sama ini juga
menyebutkan hubungan dekat antara Haman dan
Fir'aun. 1
Dalam kamus People in the New Kingdom , yang
disusun berdasarkan keseluruhan kumpulan
prasasti tersebut, Haman disebut sebagai
“pemimpin para pekerja batu pahat”. 2
Temuan ini mengungkap kebenaran sangat
penting: Berbeda dengan pernyataan keliru para
penentang Al Qur'an, Haman adalah seseorang
yang hidup di Mesir pada zaman Nabi Musa AS.
Ia dekat dengan Fir'aun dan terlibat dalam
pekerjaan membuat bangunan, persis
sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur'an.
Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku,
aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain
aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah
liat kemudian buatkanlah untukku bangunan
yang tinggi supaya aku dapat naik melihat
Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-
benar yakin bahwa dia termasuk orang-
orang pendusta". (QS. Al Qashas, 28:38)
Ayat dalam Al Qur'an tersebut yang mengisahkan
peristiwa di mana Fir'aun meminta Haman
mendirikan menara bersesuaian sempurna
dengan penemuan purbakala ini. Melalui
penemuan luar biasa ini, sanggahan-sanggahan
tak beralasan dari para penentang Al Qur'an
terbukti keliru dan tidak bernilai intelektual.
Secara menakjubkan, Al Qur'an menyampaikan
kepada kita pengetahuan sejarah yang tak
mungkin dimiliki atau diketahui di masa Nabi
Muhammad SAW. Hiroglif tidak mampu
dipecahkan hingga akhir tahun 1700-an sehingga
pengetahuan tersebut tidak dapat dipastikan
kebenarannya di masa itu dari sumber-sumber
Mesir. Ketika nama “Haman” ditemukan dalam
prasasti-prasasti kuno tersebut, ini menjadi bukti
lagi bagi kebenaran mutlak Firman Allah.

0 komentar:

Posting Komentar