Sabtu, 21 Mei 2011

Pohon Terus Tumbuh, Namun Seberapa Jangkung?

Dalam sebuah kajian tentang pohon-pohon
terjangkung di dunia, para peneliti dari
Northern Arizona University telah
menyingkapkan faktor-faktor yang
memengaruhi pertumbuhan pohon. (1,2)
Ada penciptaan yang nyata pada pohon. Sel-sel
yang menyusun pohon tertata sedemikian agar
membentuk akar, batang, kulit kayu, buluh air,
cabang, dan daun. Sel-sel itu membentuk
bagian-bagian yang membuat pohon bertahan
hidup dengan melakukan fungsi-fungsi penting,
dan ada suatu pembagian kerja yang tertata dan
terencana di antara bagian-bagian itu.
Di samping itu, sebatang pohon menyerupai
sebuah pabrik kimia raksasa. Proses-proses
kimia yang sangat rumit dijalankan dengan
menimbang urut-urutan yang tanpa cela. Ada
bukti bahwa organ-organ yang menjalankan
proses-proses ini melakukan perhitungan
bagaikan seperangkat komputer.
Salah satu fakta yang paling mencolok adalah
bahwa informasi tentang susunan dan sistem ini
dimasukkan ke dalam DNA pohon, ketika masih
berupa benih kecil bulat. Benih menaati perintah-
perintah yang dimuat ke dalam DNA-nya, dan
berubah menjadi sebuah struktur raksasa yang
tak sesuatu pun dapat menyainginya dalam hal
penampakan dan ukuran. Cara sebutir benih
menyeruakkan akar dan berubah menjadi
sebatang pohon setelah terdampar di tanah dan
sedikit dilembabkan, merupakan suatu tanda
nyata penciptaan Allah yang tiada cacatnya.
Cara pertumbuhan pada mahluk hidup yang
menakjubkan ini berhenti setelah suatu titik
tertentu adalah bagian dari keseimbangan yang
diciptakan di Bumi oleh Allah. Jika sel-sel yang
menyusun sebuah pohon mesti terus tumbuh
secara tak terkendali, maka akibat-akibat mungkin
timbul yang akan membawa akhir bagi
kehidupan di Bumi.
Para ilmuwan yang meneliti faktor-faktor yang
menentukan berapa banyak pohon dapat tumbuh
melakukan sebuah kajian yang paling
menakjubkan tentang pohon-pohon terjangkung
di dunia. Dengan memanjat puncak pohon lebih
dari 100 meter tingginya, para peneliti mencari
kunci tentang faktor-faktor ini dengan melakukan
pengukuran-pengukuran.
Mereka memelajari lima pohon terjangkung
dunia, termasuk pohon kayu merah (Sequia
sempervirens) setinggi 112,7 meter yang
memegang gelar pohon terjangkung sedunia.
Pohon setinggi itu sama dengan gedung 30
tingkat.
Sebelumnya, para ilmuwan berpikir bahwa faktor
utama yang menentukan tinggi sebuah pohon
terletak pada tekanan mekanis ketinggian. Akan
tetapi, disadari bahwa pohon memiliki struktur
yang sangat kokoh yang sedemikian sehingga
dapat mengatasi tegangan ini. Ini mendorong ke
penelitian yang terpusat pada daya angkat air.
Dalam penelitian tersebut, yang dilakukan sebuah
kelompok yang dipimpin George Koch, ahli
ekologi Northern Arizona University, sejumlah
temuan pada alur berpikir ini diperoleh.
Penelitian-penelitian yang dijalankan oleh para
ilmuwan di sebuah lingkungan alamiah dan di
bawah keadaan laboratorium ini menyingkapkan
bahwa kendali utama bagi ketinggian pohon
maksimum sesungguhnya adalah pasokan air ke
puncak pohon.
Air mencapai puncak pohon dengan cara
transpirasi, dengan kata lain, dengan menguap
lewat pori-pori di permukaan dedaunan.
Transpirasi membawa air ke dalam tumbuhan
lewat akar, dan naik ke puncak lewat sel-sel
penyalur air dari jaringan xilem. Gerakan air ini
mengatasi gaya gravitasi dan gesekan, dan air
terus naik ke atas dalam bentuk sebuah buluh
(kolom). Karena gaya gravitasi dan gesekan yang
melawan gerakan air itu paling besar di puncak
pohon, gaya yang mendorong air ke atas juga
mencapai tingkat tertingginya di sana. Buluh-
buluh air mampu mengatasi tegangan ini hingga
suatu ambang pecah (fragmentasi). Yakni, suatu
titik di mana gelembung muncul pada buluh air
dan menghentikannya. Keadaan ini dikenal di
kalangan ahli tumbuhan sebagai “embolisme”.
Koch dan para sejawatnya mengukur tegangan
tertinggi buluh air pada puncak-puncak pohon-
pohon kayu merah terjangkung. Pengukuran ini
menyingkapkan bahwa teganan tertinggi dekat
dengan titik embolisme. Pada saat yang sama,
tingkat tegangan ini juga sebuah faktor yang
mengendalikan seberapa jangkung pohon akan
tumbuh. Tiga faktor lain yang menentukan
ketinggian pohon juga tersingkap dalam penelitian
itu.
Air yang mencapai daun-daun di puncak pohon
biasanya akan memiliki pengaruh menyembur
pada pertumbuhan sel. Akan tetapi,
bertambahnya pengaruh gravitasi dan gesekan
pada puncak pohon mengurangi daya alir air,
sehingga membuat sel-sel di puncak kecil dan
berdinding tebal. Akibatnya, dedaunan pada
puncak pohon juga kecil dan padat. Kepadatan
daun mencapai tingkat tertingginya di puncak
pohon kayu merah. Ini menunjukkan bahwa
perkembangan pohon hingga rentang tertentu
tertahan. Maka, kepadatan daun di puncak pohon
mewakili faktor kedua yang mengendalikan
ketinggian.
Dedaunan yang kecil dan tebal di puncak pohon
juga mengurangi fotosintensis yang dijalankan
pada daerah ini. Pengaruh ini, yang menurunkan
produktifitas fotosintesis, dikenali sebagai faktor
ketiga yang menentukan ketinggian pohon.
Koch dan kelompoknya juga menetapkan bahwa
tingkat CO2 pada dedaunan yang 100 meter
tingginya adalah tingkat terendah yang teramati
pada kadar CO2 atmosfer sekeliling. Ini
membentuk faktor keempat: keterbatasan
penyerapan CO2 yang terjadi lewat pori-pori
daun.
Berdasarkan pada keempat faktor fisiologis ini,
para ilmuwan mencoba menghitung ketinggian
maksimum yang dengannya pohon dapat
tumbuh. Hasilnya, mereka menyingkapkan
bahwa pohon-pohon dapat mencapai ketinggian
maksimum antara 122 dan 130 meter.
Pengamatan-pengamatan bahwa pohon-pohon
tumbuh rata-rata seperempat meter setahun
mendukung lebih jauh pemikiran ini.
Faktor-faktor penghambat yang tersingkap dalam
penelitian ini demikian penting bagi keseimbangan
ekologis. Sebagai rangkuman, fakta-fakta bahwa:
“Air yang naik melawan gaya-gaya gravitasi dan
gesekan tidak dapat melewati suatu tingkat
tertentu,”
“Dedaunan tumbuh lebih kecil dan lebih padat,”
“Ada pengurangan produktifitas fotosintesis, dan”
“Serapan CO2 yang diperlukan dalam fotosintesis
merosot hingga ke minimum,”
berarti bahwa pohon dihalangi dari tumbuh
melewati suatu titik tertentu. Dengan cara ini,
keseimbangan alamiah yang terwujudkan oleh
pengaruh saling bantu sejumlah faktor-faktor
hidup dan tak-hidup tidak terancam oleh
pertumbuhan pohon yang tak terkendali. Dengan
memandang dari sudut ini, penelitian ini
membentuk contoh terakhir bagaimana proses-
proses kehidupan pada mahluk hidup
mendukung keseimbangan luas di alam, dan
betapa sempurnanya semua ini telah diatur.
Tiada keraguan bahwa tiap-tiap faktor ini adalah
sebuah sebab yang mewujud atas kehendak
Allah. Setiap tahap, dari mengecambahnya
benih, benih menjadi semak, dan semak menjadi
pohon, dan pohon tumbuh hingga ia berhenti,
terjadi di bawah kendali Allah Mahakuasa. Setiap
tahap dalam kehidupan pohon, setiap kegiatan
yang berkaitan dengan biologinya, adalah
perwujudan dari kekuasaan Allah yang tanpa
batas.
Dalam satu ayat Al Qur'an, Allah berfirman:
“Dan Allah telah meninggikan langit dan
meletakkan neraca (keseimbangan).” (QS

0 komentar:

Posting Komentar