Sabtu, 21 Mei 2011

PELAJARAN DARI BENCANA TSUNAMI BAGI KITA

Gempa bumi tanggal 26 Desember 2004 di
Asia Tenggara, yang terbesar dalam kurun
waktu 40 tahun terakhir dan terbesar
kelima sejak tahun 1900, tercatat 9 pada
skala Richter. Gempa tersebut beserta
gelombang tsunami yang terjadi setelahnya
menyebabkan bencana yang menewaskan
lebih dari 220.000 orang. Patahan seluas
1.000 kilometer persegi yang muncul akibat
pergerakan sejumlah lempengan di bawah
permukaan bumi dan energi raksasa yang
ditimbulkan oleh bongkahan tanah raksasa
yang berpindah tempat, berpadu dengan
energi raksasa yang terjadi di samudra
untuk membentuk gelombang tsunami.
Gelombang tsunami itu menghantam
negara-negara Asia Tenggara seperti
Indonesia, Sri Lanka, India, Malaysia,
Thailand, Bangladesh, Myanmar, Maladewa
dan Seychelles, dan bahkan pesisir pantai
Afrika seperti Somalia, yang terletak sejauh
kurang lebih 5.000 kilometer.
Istilah "tsunami," yang dalam bahasa Jepang
berarti gelombang pelabuhan, menjadi bagian
dari bahasa dunia pasca tsunami raksasa Meiji
pada tanggal 15 Juni 1896 yang melanda Jepang
dan menyebabkan 21.000 orang kehilangan
nyawa.
Untuk memahami tsunami, sangatlah penting
untuk dapat membedakannya dari pergerakan
pasang-surut dan gelombang biasa yang
diakibatkan oleh angin. Angin yang bertiup di atas
permukaan laut menimbulkan arus yang terbatas
pada lapisan bagian atas laut dengan
memunculkan gelombang-gelombang yang
relatif kecil. Misalnya; para penyelam dengan
tabung udara dapat dengan mudah menyelam ke
bawah dan mencapai lapisan air yang tenang.
Gelombang laut mungkin dapat mencapai
setinggi 30 meter atau lebih saat terjadi badai
dahsyat, tapi hal ini tidak menyebabkan
pergerakan air di kedalaman. Selain itu, kecepatan
gelombang laut biasa yang diakibatkan angin
tidaklah lebih dari 20 km/jam. Sebaliknya,
gelombang tsunami dapat bergerak pada
kecepatan 750-800 km/jam. Gelombang pasang
surut bergerak di permukaan bumi dua kali dalam
rentang waktu satu hari dan, seperti halnya
tsunami, dapat menimbulkan arus yang
mencapai kedalaman hingga dasar samudra.
Namun, berbeda dengan gelombang pasang
surut, penyebab gelombang tsunami bukanlah
gaya tarik bumi dan bulan.
Tsunami merupakan gelombang laut berperiode
panjang yang terbentuk akibat adanya energi
yang merambat ke lautan akibat gempa bumi,
letusan gunung berapi dan runtuhnya lapisan-
lapisan kerak bumi yang diakibatkan bencana
alam tersebut di samudra atau di dasar laut,
peristiwa yang melibatkan pergerakan kerak bumi
seperti pergeseran lempeng di dasar laut, atau
dampak tumbukan meteor. Ketika lantai dasar
samudra berpindah tempat dengan kecepatan
tinggi, seluruh beban air laut di atasnya terkena
dampaknya. Apa yang terjadi di lantai dasar
samudra dapat disaksikan pengaruhnya di
permukaan air laut, dan keseluruhan beban air
laut tersebut, hingga kedalaman 5.000 - 6.000
meter, bergerak bersama dalam bentuk
gelombang. Satu rangkaian bukit dan lembah
gelombang itu dapat meliputi wilayah hingga
seluas 10.000 kilometer persegi.
TSUNAMI TIDAK BERDAMPAK DI LAUTAN
LEPAS
Di laut lepas tsunami bukanlah berupa tembok air
sebagaimana yang dibayangkan kebanyakan
orang, tetapi umumnya merupakan gelombang
berketinggian kurang dari 1 meter dengan
panjang gelombang sekitar 1.000 kilometer. Di
sini dapat dipahami bahwa permukaan
gelombang memiliki kemiringan sangat kecil
(ketinggian 1 cm yang terbentang sejauh 1 km). Di
wilayah samudra dalam dan lepas, gelombang
seperti ini terjadi tanpa dapat dirasakan, meskipun
bergerak pada kecepatan sebesar 500 hingga 800
km/jam. Hal ini dikarenakan pengaruhnya
tersamarkan oleh gelombang permukaan laut
biasa. Agar lebih memahami betapa tingginya
kecepatan gelombang tsunami, dapat kami
katakan bahwa gelombang tersebut mampu
menyamai kecepatan pesawat jet Boeing 747.
Tsunami yang terjadi di laut lepas tidak akan
dirasakan sekalipun oleh kapal laut.
TSUNAMI MEMINDAHKAN 100.000 TON
AIR KE DARATAN
Penelitian menunjukkan bahwa tsunami ternyata
bukan terdiri dari gelombang tunggal, melainkan
terdiri atas rangkaian gelombang dengan satu
pusat di tengah, seperti sebuah batu yang
dilemparkan ke dalam kolam renang. Jarak antara
dua gelombang yang berurutan dapat mencapai
500-650 kilometer. Ini berarti tsunami dapat
melintasi samudra dalam hitungan jam saja.
Tsunami hanya melepaskan energinya ketika
mendekati wilayah pantai. Energi yang terbagi
merata pada segulungan air raksasa menjadi
semakin memadat seiring dengan semakin
mengerutnya gulungan air tersebut, dan
meningkatnya tinggi gelombang permukaan
secara cepat dapat diamati. Gelombang
berketinggian kurang dari 60 cm di laut lepas
kehilangan kecepatannya saat mendekati perairan
dangkal, dan jarak antargelombangnya pun
berkurang. Akan tetapi, gelombang yang saling
bertumpang tindih memunculkan tsunami
dengan membentuk dinding air. Gelombang
raksasa ini, yang biasanya mencapai ketinggian 15
meter tapi jarang melebihi 30 meter, melepaskan
kekuatan dahsyat saat menerjang pantai dengan
kecepatan tinggi, sehingga menyebabkan
kerusakan hebat dan menelan banyak korban
jiwa.
Tsunami memindahkan lebih dari 100.000 ton air
laut ke daratan untuk setiap meter garis pantai,
dengan daya rusak yang sulit dibayangkan.
(Gelombang tsunami terbesar yang pernah
diketahui, yang melanda Jepang pada bulan Juli
1993, naik hingga 30 meter di atas permukaan air
laut.) Tanda awal datangnya tsunami biasanya
bukanlah berupa dinding air, akan tetapi surutnya
air laut secara mendadak.
TSUNAMI-TSUNAMI BESAR DALAM SEJARAH
Gelombang-gelombang laut raksasa terbesar
akibat gempa bumi yang tercatat dalam sejarah
adalah sebagai berikut
Gelombang raksasa paling tua yang pernah
diketahui akibat gempa di laut, yang diberi nama
"tsunami" oleh orang Jepang dan "hungtao" oleh
orang Cina, adalah yang terjadi di Laut Tengah
sebelah timur pada tanggal 21 Juli 365 M dan
menewaskan ribuan orang di kota Iskandariyah,
Mesir.
Ibukota Portugal hancur akibat gempa dahsyat
Lisbon pada tanggal 1 November 1775.
Gelombang samudra Atlantik yang mencapai
ketinggian 6 meter meluluhlantakkan pantai-pantai
di Portugal, Spanyol dan Maroko.
27 Agustus 1883: Gunung berapi Krakatau di
Indonesia meletus dan gelombang tsunami yang
menyapu pantai-pantai Jawa dan Sumatra
menewaskan 36.000 orang. Letusan gunung
berapi tersebut sungguh dahsyat sehingga
selama bermalam-malam langit bercahaya akibat
debu lava berwarna merah.
15 Juni 1896: "Tsunami Sanriku" menghantam
Jepang. Tsunami raksasa berketinggian 23 meter
tersebut menyapu kerumunan orang yang
berkumpul dalam perayaan agama dan menelan
26.000 korban jiwa.
17 Desember 1896: Tsunami merusak bagian
pematang Santa Barbara di California, Amerika
Serikat, dan menyebabkan banjir di jalan raya
utama.
31 Januari 1906: Gempa di samudra Pasifik
menghancurkan sebagian kota Tumaco di
Kolombia, termasuk seluruh rumah di pantai
yang terletak di antara Rioverde di Ekuador dan
Micay di Kolombia; 1.500 orang meninggal dunia.
1 April 1946: Tsunami yang menghancurkan
mercu suar Scotch Cap di kepulauan Aleut
beserta lima orang penjaganya, bergerak menuju
Hilo di Hawaii dan menewaskan 159 orang.
22 Mei 1960: Tsunami berketinggian 11 meter
menewaskan 1.000 orang di Cili dan 61 orang di
Hawaii. Gelombang raksasa melintas hingga ke
pantai samudra Pasifik dan mengguncang Filipina
dan pulau Okinawa di Jepang.
28 Maret 1964: Tsunami "Good Friday" di
Alaska menghapuskan tiga desa dari peta dengan
107 warga tewas, dan 15 orang meninggal dunia
di Oregon dan California.
16 Agustus 1976: Tsunami di Pasifik
menewaskan 5.000 orang di Teluk Moro, Filipina.
17 Juli 1998: Gelombang laut akibat gempa yang
terjadi di Papua New Guinea bagian utara
menewaskan 2.313 orang, menghancurkan 7
desa dan mengakibatkan ribuan orang kehilangan
tempat tinggal.
26 Desember 2004: Gempa berkekuatan 8,9
pada skala Richter dan gelombang laut raksasa
yang melanda enam negara di Asia Tenggara
menewaskan lebih dari 156.000 orang.
PENYEBAB TINGGINYA DAYA RUSAK
TSUNAMI
Menurut informasi yang diberikan oleh Dr. Walter
C. Dudley, profesor oseanografi dan salah satu
pendiri Museum Tsunami Pasifik, tak menjadi soal
seberapa besar kekuatan gempa bumi,
pergerakan lantai dasar samudra merupakan
syarat terjadinya tsunami. Dengan kata lain,
semakin besar perpindahan lempeng kerak bumi
di lantai dasar samudra, semakin besar jumlah air
yang digerakkannya, dan hal ini akan menambah
kedahsyatan tsunami. Hal lain yang meningkatkan
daya rusak tsunami adalah struktur pantai yang
diterjangnya: Selain faktor seperti bentuk pantai
yang berupa teluk atau semenanjung, landai atau
curam, bagian dari pantai yang selalu berada di
dalam air mungkin saja memiliki struktur yang
dapat menambah kedahsyatan gelombang
pembunuh.
Dalam pernyataannya lain, yang memperjelas
bahwa tindakan pencegahan yang dilakukan tidak
dapat dianggap sebagai jalan keluar sempurna,
Dudley mengatakan bahwa Amerika dan Jepang
telah mendirikan perangkat pemantau paling
mutakhir di Samudra Pasifik, tapi seluruh
perangkat ini memiliki tingkat kesalahan lima
puluh persen!
TANDA-TANDA ZAMAN AKHIR
Bencana alam, yang tidak dapat dicegah
menggunakan sarana teknologi atau tindakan
penanggulangan dini, menunjukkan betapa tak
berdaya manusia sesungguhnya.
Dari abad ke-20, yang ditengarai sebagai "abad
bencana alam", hingga kini, telah terjadi sejumlah
bencana alam besar seperti gempa bumi, letusan
gunung berapi, angin tornado, badai, angin
topan, angin puyuh, dan banjir, disamping
tsunami, dan semua ini telah menimpakan
kerusakan parah dan merenggut nyawa jutaan
manusia. Ketika seseorang memikirkan fenomena
luar biasa ini, dapat dipahami bahwa hal ini
memiliki kemiripan dengan fenomena alam yang
dinyatakan sebagai pertanda masa awal dari
Zaman Akhir.
Menurut apa yang dinyatakan dalam hadits,
Zaman Akhir adalah suatu masa yang akan
datang menjelang terjadinya hari kiamat, dan
ketika nilai-nilai Al Qur'an tersebar luas ke
masyarakat. Tahap pertama dari Zaman Akhir
adalah di kala manusia menjauhkan diri dari nilai-
nilai ajaran agama, ketika peperangan semakin
meningkat, dan fenomena alam luar biasa terjadi.
Demikianlah, di dalam sejumlah hadits, kota-kota
dan bangsa-bangsa yang dilenyapkan dari
lembaran sejarah dikabarkan sebagai tanda-tanda
Zaman Akhir. Dalam hadits-hadits yang
mengupas masalah tersebut Nabi kita
menyatakan:
"Saat (Hari Akhir) tidak akan terjadi
hingga ... gempa bumi menjadi sering
terjadi." (Bukhari)
"Peristiwa-peristiwa besar akan terjadi di
masanya [Imam Mahdi]." (Ibnu Hajar
Haytahami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi'alamat
al-Mahdi al-Muntazar, h. 27)
Ada dua peristiwa besar sebelum hari
Kiamat ... dan kemudian tahun-tahun gempa
bumi. (Diriwayatkan oleh Ummu Salamah
(r.a.))
"Banyak peristiwa yang begitu
menyedihkan akan terjadi di masanya
[Imam Mahdi]." (Imam Rabbani, Letters of
Rabbani, 2/258)
Di tahap kedua Zaman Akhir, Allah akan
membebaskan manusia dari kebobrokan akhlak
dan peperangan melalui Imam Mahdi. Di masa
ini, yang dikenal sebagai Zaman Keemasan,
peperangan dan pertikaian akan berakhir, dunia
akan dipenuhi oleh kemakmuran, keberlimpahan
dan keadilan, dan nilai-nilai ajaran Islam akan
melingkupi bumi dan diamalkan secara luas. Masa
seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya,
dengan izin Allah, tetapi akan berlangsung
sebelum hari kiamat. Tahap ini sekarang tengah
menunggu saatnya yang ditentukan oleh Allah.
Segala sesuatu di bawah kendali Allah. Orang-
orang beriman yang memahami kebenaran ini
dan yang memiliki keimanan tulus kepada Allah,
berserah diri kepada Tuhan kita dengan
pemahaman bahwa mereka tengah mengikuti
takdir mereka. Allah telah mengatur segala
sesuatu dengan sempurna, hingga rinciannya
yang terkecil, sejak penciptaan bumi hingga Hari
Kiamat. Segala sesuatu dicatat dalam kitab "Lauh
Mahfuz". Segala sesuatu telah terjadi dalam satu
waktu dalam pandangan Allah, Yang tidak terikat
oleh ruang ataupun waktu, dan ruang serta
waktu dari setiap peristiwa telah ditetapkan. Fakta
ini dinyatakan dalam sebuah ayat: "Untuk tiap-
tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul)
ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan
mengetahui." (Al Qur'an, surat Al An'aam, 6:67)

0 komentar:

Posting Komentar