Sabtu, 21 Mei 2011

EVOLUSI, RASISME DAN KOLONIALISME

EVOLUSI: MITOS PENYEMBAH BERHALA
Sekitar lima ribu tahun yang lalu, di dataran subur
di Timur Tengah, agama paganisme berkembang
di Mesopotamia. Agama ini memunculkan
sejumlah mitos dan takhayyul tentang asal-usul
kehidupan dan alam semesta. Salah satunya
adalah kepercayaan pada “evolusi”. Menurut
legenda Sumeria, Enuma-Elish, kehidupan
pertama muncul secara kebetulan di air dan
kemudian berevolusi dari satu spesies ke spesies
yang lain.
Bertahun-tahun kemudian, mitos evolusi tumbuh
subur di peradaban pagan yang lain, yakni Yunani
Kuno. Para filsuf Yunani, yang menyebut diri
mereka sebagai “materialis”, hanya mengakui
keberadaan materi dan menganggap materi
sebagai sumber kehidupan. Karenanya, mereka
menggunakan mitos evolusi, yang diwariskan
bangsa Sumeria, untuk menjelaskan bagaimana
makhluk hidup muncul menjadi ada.
Demikianlah, Yunani Kuno menjadi jembatan
penghubung bagi filsafat materialis dan mitos
evolusi. Bangsa Romawi pagan kemudian
mewarisi pemikiran ini.
Dua konsep dari kebudayaan penyembah berhala
ini diperkenalkan ke dunia modern di abad
kedelapan belas. Kaum intelektual Eropa yang
terpengaruh oleh pemikiran Yunani kuno
mempercayai paham ‘materialisme’ dengan
keyakinan yang sama, yakni mereka sangat anti
terhadap agama monoteisme. Buku karya tokoh
materialis terkemuka, Baron d’Holbach, The
System of Nature dianggap sebagai “rujukan
utama ateisme”.
Dalam hal ini, ahli biologi Perancis, Jean Baptist
Lamarck, adalah yang pertama memberikan
penjelasan rinci tentang teori evolusi. Teori
Lamarck, yang kemudian terbantahkan,
menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi
dari satu spesies ke spesies yang lain melalui
perubahan sedikit demi sedikit dalam jangka
waktu lama. Adalah Charles Darwin yang
mengulangi dan menyebarluaskan pandangan
Lamarck, meskipun agak berbeda.
Darwin mengemukakan pandangannya di Inggris
tahun 1859, melalui penerbitan bukunya The
Origin of Species. Buku Darwin pada hakikatnya
adalah penjelasan rinci tentang mitos evolusi,
yang awalnya diperkenalkan oleh bangsa Sumeria
kuno. Teorinya menyatakan bahwa semua
spesies yang berbeda berasal dari satu moyang
yang sama, yang terbentuk dalam air secara
kebetulan, yang darinya beragam spesies
makhluk hidup muncul dalam rentang waktu
yang lama.
Pernyataan Darwin ini tidaklah didasarkan atas
bukti ilmiah, sehingga tak begitu dipercayai oleh
para ilmuwan di zamannya. Para ahli paleontologi
khususnya, menyadari bahwa keseluruhan teori
tersebut sebagian besarnya adalah khayalan
Darwin belaka. Catatan fosil menunjukkan bahwa
makhluk hidup tidak mengalami proses evolusi
dari bentuk sederhana ke bentuk lebih sempurna.
Bahkan makhluk yang hidup ratusan juta tahun
lalu memiliki tubuh yang sama lengkapnya
dengan yang masih hidup sekarang. Tak ada
jejak “bentuk transisi” yang menurut Darwin
pernah ada dan yang dianggap menghubungkan
satu spesies dengan yang lain. Di tahun-tahun
berikutnya, pernyataan lain dari teori ini
terbantahkan satu demi satu. Biokimia
mengungkapkan bahwa kehidupan terlalu
kompleks untuk dapat muncul secara kebetulan
sebagaimana klaim Darwin. Bahkan diketahui
bahwa pembentukan secara acak molekul paling
sederhana tidaklah mungkin, apalagi sebuah sel
hidup. Di sisi lain, anatomi menunjukkan bahwa
makhluk hidup memiliki disain khas dan masing-
masing diciptakan secara terpisah.
Singkatnya, teori Darwin tidak memiliki landasan
ilmiah. Tapi, teori ini dengan cepat memperoleh
dukungan politis dikarenakan “pembenaran
ilmiah” yang diberikannya pada kekuatan yang
berpengaruh di abad kesembilan belas.
TEORI DARWIN TENTANG RAS MANUSIA
Pada tahun 1871, Darwin menerbitkan bukunya
yang lain, The Descent of Man. Dalam buku ini ia
menyatakan bahwa manusia berevolusi dari
makhluk mirip kera. Darwin tak dapat
memberikan bukti apapun yang mendukung
klaimnya selain membuat sejumlah skenario
khayalan.
Darwin juga memiliki pemikiran yang menarik. Ia
berpendapat bahwa sejumlah ras berevolusi lebih
cepat dan, karenanya, lebih maju dari yang lain;
sedangkan ras-ras lain dianggapnya masih
setingkat dengan kera.
Ada satu hal penting lagi tentang teori Darwin, ia
membangun keseluruhan teorinya pada konsep
“perjuangan untuk mempertahankan hidup”.
Menurutnya, konflik sengit, perjuangan berdarah
melingkupi alam kehidupan ini. Yang kuat selalu
menang melawan yang lemah, dan ini
mendorong yang kuat untuk berkembang.
Darwin menegaskan bahwa konflik serupa juga
berlaku pada ras-ras manusia. Bahkan sub-judul
dari bukunya "The Origin of Species: by way of
Natural Selection or the Preservation of Favoured
Races in the Struggle for Life" (Asal Usul Spesies:
Melalui Seleksi Alam atau Pelestarian Ras-Ras
Pilihan dalam Perjuangan Mempertahankan
Hidup), dengan jelas mengungkap pandangan
rasialnya.
Menurut Darwin, ras pilihan adalah ‘bangsa kulit
putih Eropa’, sedangkan Ras Asia atau Afrika gagal
dalam perjuangan mempertahankan hidup.
Darwin melangkah lebih jauh, bahkan
mengatakan bahwa ras-ras ini akhirnya akan
dihapuskan sama sekali:
Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad
lagi, ras-ras manusia beradab hampir dipastikan
akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras
biadab di seluruh dunia. Pada saat yang sama,
kera-kera mirip manusia...tak pelak lagi akan
dimusnahkan.
Seperti terungkap jelas dalam pernyataan ini,
Darwin adalah seorang rasis tulen yang meyakini
keunggulan bangsa kulit putih. Ia meyakini
bangsa kulit putih pertama-tama akan
memperbudak, dan kemudian memusnahkan
ras-ras kelas rendah.
Gagasan Darwin sungguh mendapat sambutan
baik. Di zamannya, bangsa kulit putih sedang
mencari teori untuk membenarkan tindakan
biadab mereka.
LANDASAN BERPIKIR KOLONIALISME
Sejak abad keenam belas, Eropa mulai menjajah
berbagai belahan dunia. Penjajah pertama adalah
bangsa Spanyol di bawah pimpinan Christopher
Columbus. Dalam waktu singkat, penjajah
Spanyol menyerbu Amerika Selatan. Mereka
memperbudak penduduk asli, ras masyarakat
yang sebelumnya hidup damai. Wilayah Amerika
Selatan, yang kaya emas dan perak, dirampok
oleh para penjarah ini. Penduduk asli yang
berusaha melawan dibantai.
Menyusul Spanyol; Portugis, Belanda dan Inggris
turut ambil bagian dalam memperebutkan daerah
jajahan. Di abad kesembilan belas, Inggris
menjadi imperium kolonial terbesar di dunia. Dari
India hingga Amerika Latin, imperium Inggris
mengeruk habis sumber-sumber kekayaan alam.
Bangsa kulit putih menjarah dunia demi
kepentingannya sendiri.
Tentu saja kaum penjajah ini tak ingin dikenang
sepanjang sejarah sebagai “penjarah”. Karenanya,
mereka berusaha mendapatkan pembenaran bagi
tindakannya ini. Mereka berdalih dengan
menganggap bangsa terjajah sebagai “kaum
primitif atau terbelakang”, bahkan “makhluk mirip
binatang”. Pandangan ini pertama kali
dikemukakan di masa awal penjajahan, masa
ketika Christopher Columbus berlayar menuju
Amerika. Dengan menganggap penduduk asli
Amerika bukan manusia murni, tapi spesies
binatang yang telah berkembang, penjajah
Spanyol membenarkan perbudakan yang mereka
lakukan.
Saat peristiwa ini terjadi, dalih tersebut tidak
mendapat dukungan luas. Sebab, waktu itu
masyarakat Eropa secara luas masih percaya
bahwa semua manusia diciptakan sama oleh
Tuhan dan semuanya berasal dari moyang yang
sama, yakni Nabi Adam.
Namun, segalanya berubah di abad kesembilan
belas. Tumbuh suburnya paham materialime
menyebabkan masyarakat mulai mengabaikan
kenyataan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan.
Ini juga berarti kelahiran paham rasisme.
Landasan ilmiah rasisme adalah teori evolusi
Darwin. Ahli antropologi India, Lalita Vidyarthi
menyatakan:
Teori Darwin tentang “kelangsungan hidup bagi
yang terkuat“ disambut hangat oleh ilmuwan
sosial masa itu, dan mereka percaya bahwa
manusia meraih tangga evolusi yang berbeda,
yang berpuncak pada peradaban bangsa kulit
putih. Hingga paruh kedua abad ke-19, rasisme
diterima sebagai fakta oleh mayoritas ilmuwan
barat.
Dengan pandangan rasial seperti ini, Darwin
memberikan dukungan penuh bagi penjajahan
oleh bangsa Eropa. Imperialisme Inggris zaman
Victoria mengambil teori Darwin sebagai dasar
dan pembenaran ilmiahnya.

0 komentar:

Posting Komentar